Selasa, 21 Desember 2010

penanggulangan kesulitan belajar


BAB I
TEORI TENTANG KESULITAN BELAJAR
  1. Belajar
Bagi banyak siswa atau mahasiswa, belajar berarti menggaris bawahi buku pelajaran dengan stabilo kuning sambil mendengarkan alunan musik dari ruang lain. Kebiasaan belajar semacam itu menurut pengamatan sepintas, biasanya menghasilkan pemahaman yang cukup untuk bisa lepas dari masa percobaan di sekolah atau diperguruan tinggi.[1]
Belajar menurut anggapan sementara orang adalah proses yang terjadi dalam otak manusia. Saraf dan sel – sel otak yang berkerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, di dengar oleh telinga dan lain – lain. Lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah sebabnya orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.[2]
Sementara itu, menurut pendapat tradisional, belajar adalah menambah atau mengumpulkan sejumlah pengetahuan, disini yang dipentingkan adalah pendidikan intelektual. Lain lagi dengan para ahli pendidikan modern yang merumuskan perbuatan belajar sebagai berikut: [3]
Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara – cara bertingkah laku yang baru hasil dari pengalaman dan latihan.
Kemudian untuk memperluas pemahaman kita tentang apa yang dimaksud dengan belajar, akan dikemukakan beberapa defenisi dari para ahli pendidikan.
  1. Hilgard dan Bower dalam buku Theories of learning mengemukakan belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya. Secara berulang – ulang dalam situasi itu dimana perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan kematangan atau keadaan sesuai keadaan sesaat seseorang.
  2. Menurut Kimble yang mendefenisikan belajar sebagai perubahan yang relative permanen di dalam behavioral potentiality (potensial behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari praktik yang diperkuat[4]
  3. Dalam bukunya Conditioning and instrumental Learning (1967), Walker  mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yakni "Perubahan perbuatan sebagai akibat dari pengalaman". Definisi yang singkat dan sederhana ini tampaknya nencakup segala sesuatu yang diinginkan dalam pengertian belajar. Ini jelas' mencakup pengertian dari variabilitas-varibilitas.yang merupakan syarat mutlak bagi tiap – tiap perubahan dari perbuatan.
  4. C.T. Morgan, dalam Introduction to Psychology (1961), merumuskan belajar sebagai "Suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu. Menurut Morgan, berbagai perubahan tingkah laku yang bisa diamati pada perkembangan seseorang sejak bayi hingga dewasa, terdapat tiga hal, yaitu:
1)      Perubahan yang terjadi karena adanya proses-proses fisiologis, misalnya sakit, penyakit.
2)      Perubahan yang terjadi karena adanya proses-proses pematangan (maturation).
3)      Perubahan yang terjadi karena adanya proses-proses belajar.
  1. Dalam Educational Psychology: a Realistic Approach (1977), Good Boophy mengartikan belajar sebagai "The development of new association as a result of experience". Bertitik tolak dari definisi ini, mereka selanjutnya menjelaskan bahwa belajar merupakan proses yang benar bersifat internal. Belajar, menurut Good & Boophy, adalah dua proses yang tidak bisa dilihat dengan nyata. Proses itu terjadi dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud dengan belajar, menurut pandangan mereka, bukanlah suatu tingkah laku yang tampak, tetapi terutama prosesnya yang terjadi secara internal pada individu dalam usaha memperoleh berbagai hubungan baru. Hubungan-hubungan baru itu bisa berupa: hubungan antarperangsang. antarreaksi, atau antara perangsang dan reaksi.
  2. Crow & Crow, dalam buku Educational Psychology (1958), menyatakan "Learning is acquisition of habits, knowledge, and attitude", Belajar adalah memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap.
  3. Dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory (1978), Hintzman berpendapat, Learning is a change in organism due to experience which affect the organism's behavior"; belajar ialah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme disebabkan pengalaman tersebut yang bisa memengaruhi tingkah laku organisme itu. Dengan dernikian, menurut Hintzman, perubahan yang disebabkan pengalaman tersebut baru bisa disebut belajar jika memengaruhi organisme. Hintzman lebih lanjut menjelaskan bahwa pengalaman hidup sehari-hari, dalam bentuk apa pun, amat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar. Mengapa Sebab, menurutnya, sampai batas tertentu, pengalaman hidup itu mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang bersangkutan.
  4. Laurine, seperti dikutip Effendi & Praja (1993), dalam bukunya Building the High School Curriculum (1958) mengemukakan, "Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman". Menurut. pengertian ini, belajar merupakan proses, kegiatan dan bukan hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, tetapi lebih luas dari itu dan bukan hanya penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan. kelakuan.[5]
Berdasarkan beberapa rumusan definisi diatas, bisa dikemukakan beberapa unsur penting yang menjadi ciri atas pengertian mengenai belajar, yaitu berikut ini.
1)      Situasi belajar mesti bertujuan, dan tujuan-.tujuan tersebut diterima, baik oleh individu maupun masyarakat.
2)      Belajar, merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dan perubahan itu bisa mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, akan tetapi juga ada kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk.
3)      Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, dalam arti, perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar. Untuk bisa disebut belajar, perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada periode waktu yang cukup panjang. Seberapa lama periode waktu itu berlangsung, sulit ditentukan dengan pasti, namun perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari- hari, berbulan-bulan, ataupun. bertahun-tahun.
  1. Teori – Teori Belajar
Ada beberapa teori belajar diantaranya:
  1. Teori Operan Condotioning dari BF Skinner
BF Skinner memandang bahwa belajar adalah perubahan dalam perilaku yang dapat diamati dalam kondisi yang dikontrol secara baik. Ada tiga syarat terjadinya interaksi antara organisme dan lingkungannya. Ketiga syarat tersebut adalah:
  1. Saat respon terjadi
  2. Respon itu sendiri
  3. Konsekuensi penguatan respon.
  1. Teori Conditioning of Learning Robert M. Gagne
Kegiatan belajar adalah merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan, maka individu akan memiliki kontak dengan lingkungan secara sempurna apabila lingkungan dijadikan rangsangan dan ini yang disebut dengan stimulus.
Rumus belajar menurut Robert M. Gagne adalah


S - - - - - - - R
 
 



  1. Teori Atribusi Bernard Weiner
Pada dasarnya teori itu menyarankan bahwa bila kita mengamati prilaku seorang individu. Kita berusaha menentukan apakah prilaku itu timbul secara internal ataupun eksternal. Tetapi penentuan tersebut sebagian besar bergantung pada tiga faktor, yaitu:
  1. Kekhususan ketersendirian
  2. Konsensus
  3. Konsistensi[6]
  1. Teori kognitif
Pendekatan teori kognitif lebih menekankan proses mental manusia. Dalam pandangan ahli penganut aliran kognitif, tingkah laku yang tampak tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti motivasi, kesenjangan, keyakinan dan sebagainya.[7]
  1. Teori Belajar Sosial
Teori belajar sosial sering disebut juga sebagai teori belajar pengamatan. Tokoh utamanya adalah Albert Bandura, seorang psikolog di Universitas Stanford Amerika Serikat, dan dikenal orang sebagai ahli behaviorisme yang moderat. Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan social dan moral siswa ditekankan pada perlunya pembiasaan meres­pons dan peniruan. Menurut prinsip pembiasaan, prinsip belajar dalam mengembangkan prilaku social dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan prilaku lainnya, yaitu dengan ganjaran dan hukuman. Sebab, seseorang dapat mempelajari dan sekaligus membedakan tingkah laku yang menghasilkan ganjaran atau hukuman , sehingga ia dapat memutuskan tingkah laku mana yang harus ia pilih.
Sedangkan prinsip peniruan mengharuskan orang tua atau para guru atau para tokoh untuk memberikan contoh teladan yang baik agar anak atau siswa dapat meniru hal-hal yang baik dan menjauhkan hal-hal yang buruk.
  1. Teori Belajar Menurut Ikhwan Al-Shafa Perbedaan Individual
Ikhwan Al-Shafa mengatakan bahwa perbedaan individual manusia dalam belajar disebabkan oleh dua hal. Pertama, faktor fisiologis atau konstitusi biologis, yaitu perbedaan tabiat yang disebabkan oleh perbedaan campuran dan hormon fisik serta pengaruh bintang dan tata surya sesuai tanggal kelahirannya. Kedua, faktor lingkungan atau usaha berbagai macam tindaka dan pengetahuanyang dipelajari manusia dan model pendidikan yang ia peroleh.
  1. Kesulitan Belajar
1.      Pengertian Kesulitan Belajar
Ativitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-­kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.
Demikian antara lain kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dalam keadaan dimana anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan "kesulitan belajar."[8]
Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor inteligensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non inteligensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar, oleh karena itu, dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada setiap anak didik, maka para pendidik perlu memahami masalah – masalah yang berhubungan dengan kesulitan – kesulitan belajar.
Menurut Moh. Surya, ada beberapa cirri tingkah laku yang merupakan manifestasi dari gejala – gejala kesulitan belajar, antara lain:[9]
a.       Menunjukkan hasil belajar yang rendah.
b.      Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
c.       Lambat dalam melakukan tugas – tugas kegiatan belajar, ia selalu tertinggal dengan waktu yang tersedia.
d.      Menunjukkan sikap – sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura – pura, dusta, dan lain – lain.
e.       Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan.
f.        Menunjukkan gejala – gejala emosional yang kurang wajar seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, dan lain – lain.
2.      Jenis – Jenis Kesulitan Belajar
Macam – macam kesulitan belajar ini dapat di kelompokkan menjadi 4 macam:[10]
a.       Dilihat dari Jenis Kesulitan Belajar.
-         Ada yang Berat
-         Ada yang ringan
b.      Dilihat dari bidang studi yang dipelajari
-         Ada yang sebahagian bidang studi
-         Ada yang keseluruhan bidang studi
c.       Dilihat dari sifat kesulitannya.
-         Ada yang sikapnya permanent/ menetap.
-         Ada yang sifatnya sementara
d.      Dilihat dari segi faktor penyebabnya.
-         Ada yang karena faktor intelegensi dan
-         Ada yang karena faktor Non-intelegensi
3.      Faktor – Faktor Kesulitan Belajar
Faktor – faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu: [11]
1.      Faktor Intern (faktor dari dalam diri manusia itu sendiri), meliputi:
a.       Faktor fisiologi
b.      Faktor psikologi
2.      Faktor ekstern (faktor dari luar manusia), meliputi:
a.       Faktor Non-sosial
b.      Faktor sosial
1.      Faktor Intern
a.       Sebab yang bersifat fisik
1)      Karena sakit
Seorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensorisnya dan motorisnya lemah. Akibatnya rangsangan yang diterima melalui indranya tidak dapat diteruskan ke otak.[12]
2)      Karena kurang sehat
Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasi hilang. Karena hal – hal ini maka penerimaan dan respon pelajaran berkurang.
3)      Gangguan perkembangan otak semasa bayi berupa janin
Sepanjang masa kehamilan perkembangan otak ini rentan sekali mengalami gangguan atau permasalahan terjadi pada awal kehamilan, maka sang janin mungkin sekali mati, atau bila sempat lahir akan mengalami cacat bawaan serta gangguan mental. Jika gangguan ini terjadi belakangan, dimana sel – sel spesifik telah terbentuk dan berada pada tempatnya masing – masing, maka cacat yang mungkin terjadi berupa sel yang tidak semestinya[13].
4)      Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/ saraf. Cacat itu dapat berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, pata tangan, lumpuh dan lain – lain[14].
5)      Makanan
Makanan-makanan itu harus dipilih untuk pertumbuhan dan bebas dari racun hewan/tumbuh‑tumbuhan (toxins) atau racun yang mungkin turut masuk ke dalam tubuh waktu makan, minum atau mencium makanan/minuman. Adapun yang termasuk toxins adalah semua makanan yang dapat menyebabkan anak sakit. Dengan demikian jelas bahwa anak yang, kekurangan vitamin, protein atau kekurangan substansi lain yang diperlukan, maka dampak negatifnya akan merasa cepat capek, tidak dapat memusatkan perhatian terhadap kegiatan belajar.
6)      Kecanduan
Alkohol, ganja dan sejenisnya dapat menimbulkan ketagihan. Pada mulanya kebiasaan itu kelihatan tidak berbahaya dan gampang ditinggalkan, tetapi sebelum bahaya itu disadari, kuasa kemauan sudah hilang sehingga kebiasaan itu tidak dapat ditinggalkan lagi.
Misalnya: kasus yang dialami Sali yaitu pernah mencoba minuman keras yang berasal dari teman-temannya, sehingga ia merasa ketagihannya bertambah besar dan tidak dapat memusatkan perhatian, tidak dapat menyelesaikan pekerjaan rumah serta sulit memahai konsep-konsep baru
7)      Kecapaian/ kelelahan
Kondisi fisiologis pada umumnya sangat mempengaruhi prestasi belajar seseorang. Orang dalam keadaan sehat jasmaninya akan berbeda hasil belajarnya dengan orang yang kondisi jasmani dalam keadaan jasmani lemah. Seorang dalam kondisi kelelahan tidak mudah menerima pelajaran, bahkan mudah mengantuk, sehingga prestasi belajarnya rendah[15].
b.      Faktor psikologis
Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong ke dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar. Faktor­-faktor itu adalah: inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kelelahan. Uraian berikut ini akan membahas faktor-faktor tersebut.
1)      Intelegensi
Untuk memberikan pengertian tentang inteligensi, Chaplin merumuskannya sebagai:
(a)    The ability to meet and adapt to Hove t situations quickly and effectively.
(b)   The ability to utilize abstract_    effectively.
(c)    The ability to grasp relationships and to learn quickly.
Jadi intelegensi ini adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui/ menggunakan konsep yang abstrak secara relative, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat[16]
2)      Perhatian
Perhatian menurut gazali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa itu pun semata – mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal) atau sekumpulan objek. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakat.
3)      Bakat
Bakat adalah potensi/ kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbda – beda. Seseorang yang mungkin di bidang lain ketinggalan. Seseorang yang berbakat di bidang tehnik tetapi di bidang olahraga lemah.
Jadi, seseorang akan mudah mempelajari yang sesuai dengan bakatnya. Apabila seseorang anak harus mempelajari bahan yang lain dari bakatnya ia akan cepat bosan, mudah putus asa, tidak senang[17].
4)      Minat
Tidak adanya minat seseorang anak terhadap sesuatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhan, tidak sesuai dengan kecakapan, tidak sesuai dengan tipe – tipe khusus anak banyak menimbulkan problema pada dirinya. Karena itu, pelajaran pun tidak pernah terjadi proses dalam otak, akibatnya timbul kesulitan. Ada tidaknya minat terhadap sesuatu pelajaran dapat dilihat dari cara anak mengikuti pelajaran, lengkap tidaknya catatan, memperhatikan garis miring tidaknya dalam pelajaran itu. Dari tanda – tanda itu seorang petugas diagnosis dapat menemukan apakah sebab kesulitan belajarnya disebabkan karena tidak adanya minat, atau oleh sebab yang lain.
5)      Motivasi
Motibasi merupakan suatu proses untuk menggiatkan motif – motif menjadi perbuatan untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar kesuksesan belajarnya. Seorang yang besar motivasinya akan giat berusaha. Sebaliknya mereka yang bermotivasi rendah tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, akibatnya banyak mengalami kesulitan belajar.
6)      Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat – alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Misalnya anak dengan kakinya sudah siap untuk berjalan, tangan dengan jari – jarinya sudah siap untuk menulis, dengan otaknya sudah siap untuk berpikir abstrak dan lain - lain.
7)      Kesiapan
Kesiapan menurut Jameles Drever adalah kesedian untuk memberi respon atau bereaksi. Kesedian itu timbul  dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan.
2.      Faktor Ekstern
a.       Faktor Non-Sosial
1.      Faktor Orang Tua
a)      Cara mendidik anak
Orang tua yang tidak/kurang memperhatikan pendidikan anak – anaknya, mungkin acuh tak acuh, tidak memperhatikan kemajuan anak – anaknya, akan menjadi penyebab kesulitan belajarnya[18].
b)      Hubungan anak dan orang tua
Sifat hubungan orang tua dan anak sering dilupakan. Faktor ini penting sekali dalam menentukan kemajuan belajar anak.
2.      Suasana Rumah Tangga/keluarga
Suasana keluarga yang ramai/ gaduhtidak mungkin anak dapat belajar dengan baik. Anak selalu terganggu konsentrasinya, sehingga sukar untuk belajar.
3.      Keadaan ekonomi keluarga
Faktor biaya merupakan faktor yang sangat penting karena belajar dan kelangsungan sangat memerlukan biaya.
4.      Faktor sekolah
Yang dimaksud dengan sekolah, antara lain:
a.       Guru yang tidak berkualitas
b.      Hubungan guru dengan siswa kurang baik
c.       Guru menuntut standar pelajaran di atas kemampuan anak
d.      Metode mengajar guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar.
5.      Faktor alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat praktikum, kurangnya laboratorium akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar[19].
6.      Kondisi gedung
7.      Kurikukum
Kurikulum adalah landasan yang digunakan pendidik untuk membimbing peserta didinya ke arah tujuan pendidikan yang diinginkan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental[20].
8.      Waktu sekolah dan kedisiplinan kurang
b.      Faktor sosial
1)      Teman bergaul
Teman bergaul pengaruhnya sangat besar dan lebih cepat masuk dalam jiwa anak. Apabila anak suka bergaul dengan mereka yang tidak sekolah, maka ia akan malas belajar, sebab hidup anak yang bersekolah berlainan dengan anak yang tidak bersekolah. Kewajiban orang tua adalah mengawasi mereka serta mencegahnya agar tidak mengurangi pergaulan dengan mereka.
2)      Lingkugan Tetangga
Corak kehidupan tetangga, misalnya suka main judi, minum arak, menganggur, pedagang, tidak suka belajar, akan mempengaruhi anak – anak yang bersekolah.
3)      Aktivitas dalam Masyarakat
Terlalu banyak berorganisasi, kursus ini itu akan menyebabkan belajar anak menjadi terbengkalai.

BAB II
KESULITAN BELAJAR MAHASISWA
  1. Potensi Yang Dimilki Oleh Diri Sendiri
  1. Potensi apa yang saya milki sebelum saya masuk IAIN?
-         Dari segi Ilmu :
Potensi ilmu yang saya milki sebelum saya masuk IAIN atau lebih tepatnya sewaktu saya SMA dulu, yaitu ilmu – ilmu di bidang umum diantaranya akuntansi, matematika, dan lain – lain. Dikarenakan saya berasal dari sekolah kejuruan, sedangkan ilmu agama saya miliki hanya sekedar dasar – dasar dari ilmu agama tersebut. Soal hafalan al-Qur’an, saya tidak mempunyai hafalan sebab disekolah tidak diterapkan hafalan, hanya disekolah ada praktek membaca al-Qur’an
-         Dari segi Akhlak:
Sewaktu sebelum masuk IAIN atau masih SMA, akhlak saya tidak ada yang menyimpang, semua masih baik. Walaupun kadang – kadang berantam kepada teman pernah terjadi tetapi secara keseluruhan akhlak saya sampai sekarang masih baik.
-         Dari segi Keimanan:
Soal keimanan, sebelum masuk IAIN lebih baik daripada sesudah masuk IAIN. Sewaktu SMA dulu saya masih rajin mengerjakan shalat 5 waktu, sedangkan setelah masuk IAIN banyak shalat saya yang tidak dilaksanakan dikarenakan banyak faktor, diantaranya malas, capek, kadang – kadang sampai terlupakan.
  1. Bagaimana potensi itu sekarang! Naik atau turun?
Mengenai potensi itu sekarang pasti kebanyakan turun dikarenakan ilmu yang saya peroleh di SMA tidak saya lanjutkan di perguruan tinggi. Kalau potensi akhlak masih tetap sama sewaktu belum masuk IAIN, sedangakn potensi keimanan menurun dikarenakan faktor malas, keletihan, dan waktu kuliah.


  1. Bagaimana mengatasinya!
Yang dapat saya lakukan yaitu memotivasi diri saya sendiri dan menambah minat saya untuk belajar terus, membiasakan untuk menghafal pelajaran terutama di bidang agama dan harus percaya diri.
  1. Potensi yang dimiliki oleh objek yang diteliti (orang lain)
    1. Potensi yang dimiliki oleh beliau sebelum beliau masuk IAIN
o       Dari segi ilmu, beliau mengatakan bahwa dia memiliki ilmu yang masih kurang, baik dalam ilmu agama maupun dalam bidang umum. Secara aplikasi yang dapat ia terapkan selalu sederhana, yaitu menerima pelajaran yang terdahulu di terima dari guru dan sekarang masih dapat diaplikasikan atau dijelaskan kepada orang lain. Namun, terkadang ilmu itu harus digali lagi karena sudah lama sekali terpendam. Jadi dengan adanya rangasangan kembali ia dapat mengungkit kembali pelajaran – pelajaran yang dahulu pernah ia pelajari.
o       Dari segi akhlak, beliau mengatakan bahwa akhlak yang dahulu ia rasakan berbeda dengan sekarang. Dahulu akhlak yang ia miliki masih dikatakan relative baik, walaupun terkadang sangat mengecewakan orang tua. Namun, segala pebuatan itu sama sekali memang tidak tahu akan dampak yang akan dihasilkan dari akhlak tersebut.
o       Dari segi keimanan, keimanan yang ada pada masyarakat umum biasanya sangat lemah, namun itu semua terkadang karena faktor – faktor tertentu. Namun, beliau mengatakan bahwa tingkat keimanan yang ia rasakan dahulu lebih berat kepada Allah, sehingga yang ia rasakan kedekatan pada Allah hamper bisa ia rasakan.
    1. Bagaimana potensi itu sekarang? Naik atau turun?
Menurut beliau potensi – potensi itu bisa saja meningkat dan bisa saja menurun, karena masih banyak faktor yang dapat mempengaruhinya. Diantaranya, pasangan hidup, ekonomi, kesibukan lainnya. Namun, saat saya mewawancarai beliau, ia mengatakan dalam posisi potensi yang sederhana, yakni maksudnya ialah melaksanakan apa yang wajib dan terkadang masih mau menyempatkan yang sunnah.
    1. Bagaimana mengatasinya?
Beliau memiliki cara yang memang sederhana juga yaitu, dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu dengan melaksanakan shalat yang sunnah dan banyak bepuasa. Kata beliau hanya dengan mendekatkan diri kepada Allah maka beban pikiran bisa berkurang dan ditambah dengan banyak bersedekah.





















BAB III
PENANGANAN KESULITAN BELAJAR MAHASISWA
Dari hasil riset yang telah saya lakukan bahwa dapat diuraikan penanganan kesulitan belajar mahasiswa diantaranya:
1.      Memberikan Motivasi
Dalam proses pembelajaran, guru dan murid keduanya terlibat dalam memotivasi keberhasilan belajar dengan tujuan yang diharapkan. Motivasi tidak hanya penting bagi guru sebagai motivator tetapi murid sebagai motivator tetapi murid sebagai subjek dan sekaligus objek pendidikan juga penting.
Tugas guru ialah memotivasi belajar siswa demi tercapainya tujuan yang diharapkan, serta memperoleh tingkah laku yang diinginkan.[21]
2.      Memberikan Perhatian
Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu objek[22]. Orang tua harus memberikan perhatian kepada seorang anak yang berkesulitan belajar agar ia termotivasi untuk mencapai keberhasilan dalam belajar.
3.      Mengulang Pelajaran
Untuk menghindari lupa, diperlukan kegiatan mengulang – ulang pekerjaan atau fakta yang sudah dipelajari membuat kemampuan untuk mengingat semakin bertambah.[23]
4.      Menumbuhkan Minat Belajar
Minat adalah perpaduan keinginan dan kemauan yang berkembang jika ada motivasi. Tidak adanya minat seseorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya. Karena itu pelajaran apa pun tidak pernah terjadi di dakalm proses otaknya, maka akibatnya timbul kesulitan belajar.


5.      Memberikan Bimbingan
Perkataan bimbingan secar. umum mempunyai arti sama dengan mendidik atau menanamkan nilai – nilai, membina moral, mengarahkan siswa supaya menjadi orang baik.
Bimbingan secara khusus yaitu sebagai suatu upaya atau program membantu mengoptimalkan perkembangan siswa. Bimbingan ini diberikan melalui bantuan pemecahan masalah yang dihadapai, serta dorongan yang dihadapi, serta dorongan bagi pengembangan potensi yang dimiliki siswa atau mahasiswa. Dimana membantu para siswa atau mahasiswa dalam memahami dirinya, mengenal dan menunjukkan arah perkembang dirinya, menyesuaikan dirinya tentang tuntutan lingkungan serta mengatasi problema – problema yan dihadapinya[24].
Secara rinci tujuan diri pada membimbing adalah memberi bantuan kepada anak didik supaya mencapai:
    1. Kebahagiaan hidup pribadi[25]
    2. Kehidupan yang efektif dan produktif
    3. Kesanggupan hidup bersama orang lain
    4. Keserasian antara cita – cita dengan kemampuan yang dimilikinya
Secara teori untuk dapat memberikan bantuan dan bimbingan yang efektif, maka seorang guru/ pendidik terlebih dahulu melakukan diagnosis kesulitan belajar yang dialami oleh para peserta didik, dengan langkah-langkah sebagai berikut: [26]
  1. Kenalilah peserta didik yang mengalami kesulitan belajar
Cara paling mudah untuk mengenali mana peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar adalah memperhatikan prestasi belajar yang diperolehnya, memperbandingkan prestasi belajar yang telah dicapai oleh siswa tersebut dengan nilai rata-rata kelas ataupun dengan cara memperhatikan kedudukan seorang siswa dalam kelompoknya (Rangking). Mereka yang menunjukkan nilai kurang (biasanya nilai lima kebawah) atau nilai yang lebih rendah dari rata kelas atau rangking sepuluh terakhir dapat dipandang sebagai peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar. 
  1. Memahami Sifat dan jenis Kesulitan Belaiarnya
Langkah kedua dari diagnosis kesulitan belajar ini adalah mencari dalam mata pelajaran apa saja siswa ini (kasus) mengalami kesulitan dalam belajar. Untuk mengatahui hal ini dapat dilihat dengan memperhatikan pada mata pelajaran-mata pelajaran apa saja siswa tersebut yang mendapat nilai rendah atau sangat rendah. SeteIah itu, untuk mengetahui jenis kesulitan belajar yang dialaminya, apakah dalam hapalan, pemahaman arti, dalam mengucap huruf-huruf, maka mata pelajaran yang mendapat nilai rendah diklasifikasikan menjadi bidang hapalan, pemahaman dan lain sebagainya. Kemudian perlu juga diamati sikap dan ingkah laku siswa dalam pergaulan sehari-hari.
  1. Menetapkan Latar Belakang Kesulitan Belajar
Langkah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang yang menjadi sebab timbulnya kesulitan belajar baik yang terletak di dalam diri peserta didik sendiri maupun di luar dirinya (lingkungan). Untuk prosedur yang ditempuh adalah:
a.       Menganalisis data atau catatan pribadi siswa yang bersangkutan, baik yang ada di sekolah maupun di luar sekolah.
b.      Mengamati kelakuan siswa yang bersangkutan, baik di kelas maupun di luar kelas/sekolah.
c.       Wawancara. dengan siswa tersebut, dengan guru, wali kelas,  orang tua, dan pihak-pihak lain yang dapat mernberi inforrnasi untuk memperoleh keterangan yang lebih luas dan jelas.
d.      Mengadakan pendekatan sosio metris untuk lmelihat kedudukan socialnya dengan kawan – kawannya terutama kawan sekelas


  1. Menetapkan Usaha-usaha Bantuan
Setelah diketahui sifat dan jenis kesulitan serta latar belakangnya, maka langkah selanjutnya ialah menetapkan beberapa kemungkinan tindakan-tindakan usaha bantuan yang akan diberikan, berdasarkan data yang diperoleh. Usaha-usaha pemberian bantuan dalam mengentaskan kesulitan belajar ini di sesuaikan dengan permasalahan yang dialami.
  1. Pelaksanaan Bantuan
Langkah ini merupakan pelaksanaan dari langkah sebelumnya, yakni melaksanakan kemungkinan bantuan. pemberian bantuan dilaksanakan secara terus-menerus dan terarah dengan disertai penilaian yang_tepat sampai pada saat yang telah diperkirakan. Bantuan untuk mengentaskan kesulitan belajar terutama ditekan pada meningkatkan prestasi belajar dengan mengurangi hambatan-hambatan yang menjadi latar belakangnya.
  1. Tindak Lanjut
Tujuan langkah ini ialah untuk menilai sampai sejauh manakah tindakan pemberian bantuan telah mencapai hasil yang diharapkan. Tindak lanjut dilakukan secara terus - menerus baik selama, maupun sesudah pemberian bantuan. Dengan langkah ini dapat  diketahui keberhasilan. Ada empat macam tindak lanjut penanganan kasus dan pelayanan psikoedukasional. (1) Tindak  lanjut yang sifatnya insidental, ialah yang berlangsung sambil berlangsungnya pelaksanaan rutin di sekolah. Misalnva, konselor atau guru mewawancarai murid, memperhatikan perkembangan dan efek perlakuan/ konseling, membantu lebih jauh dalam penyesuaian atau, permasalahan. 2) Tindak lanjut sebagai bagian penanganan kasus individual, yang terencana. Umumnya, penanganan kasus masih diikuti paling tidak lama satu tahun. (3) Tindak lanjut dalarn mengikuti murid yang naik kelas dari tingkat satu ke tingkat yang lebih tinggi. (4) 'Tindak lanjut yang mengikuti siswa sampai keluar dari lingkungan sekolah untuk bekerja atau, melanjutkan pendidikan di luar lingkungan sekolah[27].
Banyak alternatif yang dapat di ambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut: [28]
a.       Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagain – bagian masalah dan hubungan tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
b.      Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan
c.       Menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching (pengajaran perbaikan)
            Setelah langkah – langkah diatas selesai, barulah guru melaksanakan langkah keempat, yakni melaksanakan program perbaikan.
  1. Analisis Hasil Diagnosis
Data dan informasi yang diperoleh guru melalui diagnosis sedemikan rupa, sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti.
  1. Menentukan Kecakapan Bidang Bermasalah
Berdasarkan hasil analisis tadi, guru diharapkan dapat menentukan bidang kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan. Bidang – bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam:
    1. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.
    2. bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orang tua.
    3. bidang kecakapan bermasalah yang tidak ditangani baik oleh guru maupun orang tua.
  1. Menyusun Program Perbaikan
Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnya guru perlu menetapkan hal – hal sebagai berikut:
    1. Tujuan pengajaran remedial
    2. Materi pengajaran remedial
    3. Metode pengajaran remedial
    4. Alokasi waktu pengajaran remedial
    5. Evaluasi kemajuan setelah mengikuti program pengajaran remedial.

























BAB IV
KESIMPULAN
Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara – cara bertingkah laku yang baru hasil dari pengalaman dan latihan.
C.T. Morgan, dalam Introduction to Psychology (1961), merumuskan belajar sebagai "Suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu. Menurut Morgan, berbagai perubahan tingkah laku yang bisa diamati pada perkembangan seseorang sejak bayi hingga dewasa, terdapat tiga hal, yaitu:
1)      Perubahan yang terjadi karena adanya proses-proses fisiologis, misalnya sakit, penyakit.
2)      Perubahan yang terjadi karena adanya proses-proses pematangan (naturation).
3)      Perubahan yang terjadi karena adanya proses-proses belajar.
Beberapa unsur penting yang menjadi ciri atas pengertian mengenai belajar, yaitu berikut ini.
1)      Situasi belajar mesti bertujuan, dan tujuan-.tujuan tersebut diterima, baik oleh individu maupun masyarakat.
2)      Belajar, merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dan perubahan itu bisa mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, akan tetapi juga ada kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk.
Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, dalam arti, perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar. Untuk bisa disebut belajar, perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada periode waktu yang cukup panjang. Seberapa lama periode waktu itu berlangsung, sulit ditentukan dengan pasti, namun perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari- hari, berbulan-bulan, ataupun. bertahun-tahun.
Menurut Moh. Surya, ada beberapa cirri tingkah laku yang merupakan manifestasi dari gejala – gejala kesulitan belajar, antara lain:[29]
g.       Menunjukkan hasil belajar yang rendah.
h.       Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
i.         Lambat dalam melakukan tugas – tugas kegiatan belajar, ia selalu tertinggal dengan waktu yang tersedia.
j.        Menunjukkan sikap – sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura – pura, dusta, dan lain – lain.
k.      Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan.
l.         Menunjukkan gejala – gejala emosional yang kurang wajar seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, dan lain – lain.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar yaitu ada dua:
1)      Faktor Intern (faktor yang ada dalam diri manusia), yaitu pembawaan yang memang ada pada diri seseorang, seperti minat, bakat, dan lain – lain.
2)      Faktor ekstern (faktor yang datang dari luar diri manusia), yaitu segala yang dilihat oleh siswa atau peserta didik, baik dalam keluarga maupun masyarakat/ lingkungan.
Penanganan yang dapat dilakukan terhadap kesulitan belajar, antara lain:
1)      Memberikan Motivasi
2)      Memberikan Perhatian
3)      Mengulang Pelajaran
4)      Menumbuhkan Minat Belajar
5)      Memberikan Bimbingan






BAB V
SARAN
Sebagai orang tua yang baik maupun guru yang bijak harus saling membantu dalam membentuk karakteristik jiwa peserta didik agar tercipta kesinambungan antara pendidik dan peserta didik dan segala kesulitan yang terjadi pada anak didik akan terpecahkan serta siswa tidak akan merasa dirinya kecil hati karena kelemahannya dalam suatu hal.
Jika ada peserta didik yang memang benar – benar tidak dapat dibantu dengan bimbingan dan konseling agar kiranya orang tua membawa kepada orang yang benar ahli dalam bidangnya, yakni jika ia kurang dalam kesehatan fisik agar siswa dibawa ke dokter supaya di obati fisiknya, dan jika jiwanya yang lemah orang tua bisa membawanya kepada psikater atau psikolog agar siswa bisa dibantu dalam mencapai pemecahan masalah belajarnya.

















DAFTAR PUSTAKA

·  Sobur, Alek, Psikologi Umum dalam Lintas Sejarah, (Bandung : CV. Pusaka Setia, 2003)
·  Saleh, Abdul Rahman, Psikologi; Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2004)
·  B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson, Theories of Learning (Teori Belajar), (Jakarta : Kencana, tt)
·  Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 1991)
·  M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2007)
·  Hallen, Bimbingan dan Konseling dalam Islam, (Jakarta : Ciputat press, 2002)
·  Mardianto, Psikologi Pendidikan Landasan Bagi Pengembangan Strategi Pembelajaran (Jakarta : Citapustaka Media Perintis, 2009)
·  Hartati, Netty, dkk, Islam dan Psikologi (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004)
·  Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2002)
·  Sukadji, Soetarlinah, Psikologi dan Psikologi Sekolah, (Depok : L.P5.P3, 2000)
·  Al – Rasyidin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta : PT Ciputat Press, 2005)
·  Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar (Yogyakarta : Nuhalitera, 2010)
·  Derek Wood, dkk, Kiat Mengatasi Gangguan Belajar, (Yogyakarta : Katahati, 2005)
·  Slameto, Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2003)
·  Nana Syaodih sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005)
·  Singgih D. Gunarsa, Psikologi untuk Membimbing, (Jakarta : PT BPK Gunung Mulia, 1992)
·  Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1993)
·  Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004)


[1] Alek Sobur, Psikologi Umum dalam Linats Sejarah, (Bandung : CV. Pusaka Setia, 2003), h. 217
[2] Ibid, h. 217
[3] Abdul Rahman Saleh, Psikologi; Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2004), h. 207
[4] B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson Theories of Learning (Teori Belajar), (Jakarta : Kencana), h. 2
[5] Psikologi Umum dalam Lintas Sejarah, h. 219-210
[6] Mardianto, Psikologi Pendidikan Landasan Bagi Pengembangan Strategi Pembelajaran (Jakarta : Citapustaka Media Perintis, 2009), h. 54-58
[7] Netty Hartati, dkk, Islam dan Psikologi (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 62-65
[8] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta, 2007), h. 229
[9] Hallen, Bimbingan dan Konseling dalam Islam, (Jakarta : Ciputat press, 2002), h. 129
[10] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 1991), h. 75
[11] Psikologi Pendidikan, h. 230-231
[12] Ibid, h. 231
[13] Derek Wood, dkk, Kiat Mengatasi Gangguan Belajar (Yogyakarta : Katahati, 2005), h. 35-36
[14] Slameto, Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2003), h. 55
[15] Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar (Yogyakarta : Nuhalitera, 2010), h. 35-37
[16] Belajar dan Faktor – Faktor yang Mepengaruhinya, h. 55-56
[17] Psikologi Pendidikan, h. 234
[18] Psikologi Belajar, h. 81
[19] Ibid, h. 85-86
[20] Al – Rasyidin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta : PT Ciputat Press, 2005), h. 56
[21] Varia Winansih, Psikologi Pendidikan, (Medan : La Tansa Press, 2009), h. 113
[22] Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1993), h. 14
[23] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 44
[24] Nana Syaodih sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 233-234
[25] Singgih D. Gunarsa, Psikologi untuk Membimbing, (Jakarta : PT BPK Gunung Mulia, 1992), h. 14
[26] Hallen, Bimbingan dan Konseling, h. 139
[27] Soetarlinah Sukadji, Psikologi dan Psikologi Sekolah, (Depok : L.P5.P3, 2000), h. 148
[28] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2002), h. 176-178
[29] Hallen, Bimbingan dan Konseling dalam Islam, (Jakarta : Ciputat press, 2002), h. 129

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar